SUJUD BANYU “Engkau menurunkan hujan ke atas bumi sehingga bumi menghasilkan kehidupan. Kami memuji Dikau untuk karunia Air. Ciptakan dalam diri kami rasa kagum dan berterima kasih atas karunia air dan segala karunia lain! Sehingga kami menerimanya dengan rasa Syukur, menjaganya dengan penuh rasa cinta, membaginya penuh kedermawanan dengan semua makluk ciptaan-Mu, demi kehormatan dan kemuliaan nama-Mu yang suci. Kami percaya bahwa air adalah milik bumi dan semua makhluk…..” Penggalan doa tersebut mengiringi aksi Sujud Banyu yang dilakukan oleh para murid SD Kenalan. Sebagai ungkapan syukur atas kelulusan, murid kelas 6 SD Kanisius Kenalan juga mengadakan aksi Sujud Banyu. Sujud Banyu merupakan sebuah aksi ngabekti sumber mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Aksi dilaksanakan pada Rabu 9 Juni 2026 bertempat di Belik Gedhe Dusun Plengan Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aksi ini menjadi wujud pendidikan yang mengajak murid tidak hanya mengetahui pentingnya manfaat air, tetapi juga mengalami, merefleksikan dan mengambil bagian dalam upaya menguatkan panggilan dalam melestarikan sumber mata air. Tujuannya agar murid selalu ingat dan percaya pada kewajiban mereka dalam menjaga pusaka bersama, yaitu air. Aksi diawali dengan berjalan kaki dari sekolah menuju belik yang berjarak sekitar 1 km dari sekolah. Membersihkan sekitar sumber mata air menjadi kegiatan pertama yang dilakukan. Setelah dibandingkan dengan pengamatan pada bulan Maret lalu, belik ini tampak semakin tidak terawat. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman 2 tanaman aren dan 2 tanaman bibis. Keempat tanaman dipupuk menggunakan pupuk kandang yang dihasilkan oleh komunitas Wiji Thukul dalam ekstrakurikuler pertanian. Puncak kegiatan adalah dengan doa sujud banyu. Kami bersujud di sekitar belik, tangan kanan menyentuh air dan saling berbagi energi dengan air. Doa sujud banyu kami daraskan dengan lantang dan penuh keyakinan. Suasana menjadi semakin terasa penuh energi ketika kami melantunkan lagu air sumber kehidupan. Para murid juga mengambil air menggunakan siwur yang dimasukkan dalam wadah berupa kendi. Air akan dibawa kesekolah untuk didoakan dan menjadi berkat bagi para murid yang lulus dalam acara persapihan yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2026 yang akan datang. Aksi ini diharapkan dapat mengajak murid belajar melihat keterkaitan antara manusia, lingkungan alam, dan sang pencipta. Kelulusan bukan menjadi penanda akhir belajar, justru menjadi penanda bahwa murid seharusnya semakin berani untuk bertanggungjawab atas dirinya, komunitas, dan lingkungan alam.