Di perbukitan Menoreh yang sunyi dan berkabut, suara lonceng pernah menjadi penanda harapan bagi banyak orang. Bunyinya terdengar dari lembah ke lembah, menyusuri jalan tanah, ladang, dan rumah-rumah sederhana umat kecil di pegunungan. Suara itu tidak lahir begitu saja. Di baliknya, ada perjalanan panjang seorang misionaris Jesuit, J.B. Prennthaler, yang dengan tekun membangun kehidupan iman masyarakat Menoreh. Perjalanan misi Romo Prennthaler dimulai dari wilayah Candi Mendut, lalu menuju Gua Maria Sendangsono, hingga berkembang di Gereja Santo Theresia Lisieux Boro. Jalan yang ditempuh bukan jalan mudah. Ia harus melewati bukit curam, hutan, sungai kecil, dan desa-desa terpencil yang saat itu sulit dijangkau kendaraan. Namun Romo Prennthaler percaya bahwa Gereja harus hadir dekat dengan masyarakat kecil. Ia tidak hanya mengajarkan doa, tetapi juga mendampingi kehidupan warga sehari-hari. Ia membantu pendidikan, kesehatan, pertanian, dan membangun rasa persaudaraan antarumat. Di tengah karya misinya, Romo Prennthaler membawa sebuah gagasan sederhana tetapi bermakna besar. Di setiap desa yang memiliki sekitar sepuluh kepala keluarga Katolik, akan diberikan sebuah lonceng. Lonceng itu bukan sekadar benda logam. Lonceng menjadi tanda bahwa sebuah komunitas umat hidup dan bertumbuh di tempat itu. Satu per satu lonceng ditempatkan di berbagai wilayah Menoreh. Ada di Kerug Batur, Kerug Munggang, Kapuhan, Duren Sawit, Dlingseng, Promasan, Kajoran Pelem, Kajoran, Semagung, Wonotawang, hingga Klangon. Di Promasan bahkan terdapat dua lonceng yang menjadi bagian penting sejarah misi Menoreh. Sementara lonceng di Klangon kini dikabarkan hilang. Setiap hari, lonceng dibunyikan tiga kali. Pagi, siang, dan sore untuk Doa Malaikat Tuhan. Saat bunyi lonceng terdengar, warga menghentikan pekerjaan mereka sejenak. Petani berhenti mencangkul. Anak-anak diam sesaat. Orang-orang menundukkan kepala dan berdoa bersama. Lonceng juga dibunyikan sebelum Perayaan Ekaristi dimulai. Suaranya menjadi undangan bagi umat untuk berkumpul. Bahkan ketika ada warga meninggal dunia, lonceng kembali berbunyi. Nadanya berbeda. Pelan dan berat. Dari suara itu, seluruh kampung mengetahui bahwa ada keluarga yang sedang berduka dan perlu didampingi bersama. Menariknya, suara lonceng di Menoreh sering saling bersahutan. Ketika satu lonceng berbunyi, desa lain ikut mendengar dan membalas dengan bunyi yang sama. Dari bukit ke bukit, suara itu menyatukan umat yang tinggal berjauhan. Bunyi lonceng menjadi tanda bahwa mereka tidak sendiri. Hingga hari ini, sebagian lonceng tua itu masih tersimpan dan dijaga oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai benda bersejarah, tetapi juga sebagai saksi hidup perjalanan iman masyarakat Menoreh. Di balik bunyinya, tersimpan kisah tentang perjuangan, persaudaraan, doa, dan pelayanan yang pernah menghidupkan lereng-lereng bukit Menoreh.